Home / INTERNASIONAL / Wabah Bunuh Diri Melanda Petani Prancis

Wabah Bunuh Diri Melanda Petani Prancis

Beberapa dekade terakhir bunuh diri mewabah di petani-petani Prancis. Dilansir dari New Europe, Rabu (31/10), selalu ada satu petani yang bunuh diri setiap dua hari sekali di Prancis. Kasus terbanyak ditemukan di Brittany dan Loire.

Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh France24 antara 2007 sampai 2009 sekitar 22 persen petani laki-laki Prancis bunuh diri. Petani yang berusia antara 55 sampai 64 tahun, 47 persen mengakhiri hidup mereka.

Salah seorang petani Jean-Michel menceritakan tentang kematian salah seorang temannya yang bernama Raymond. Pada 8 Juni 2011, Raymond yang sudah berkerja sama dengan Michou, nama panggilan Michel, selama 20 tahun meninggalkan temannya tersebut dengan bunuh diri.

“Saya orang yang menemukan dia, sangat buruk, ketika saya menelponnya dan dia tidak mengangkatnya tapi saya melihat mobilnya, saya pikir pasti terjadi sesuatu dengan Raymond, sesuatu yang sangat buruk,” kata Michou, seperti dilansir dari France24, Rabu (31/10).

Utang, pekerjaan yang sangat menguras fisik, dan jatuhnya harga susu menjadi alasan utama semakin tingginya angka bunuh diri di antara petani. Kesepian juga menjadi faktor yang paling signifikan. Karena semakin banyak anak-anak petani yang tidak lagi mau menjalani bisnis keluarga dan meninggalkan rumah mereka.

Kuota Uni Eropa pada pertanian susu, memicu melimpahnya pasokan susu. Membuat harga susu merosot tajam. Sanksi ekonomi yang diterapkan kepada Rusia pada 2014 juga membuat pasar susu bagi petani Prancis juga semakin sempit.

Prancis menanggapi wabah itu dengan membentuk sebuah rencana nasional pada 2011. Mereka juga membuat Mutuelle Sociale Agricole termasuk membuat sambungan layanan telpon bagi para petani yang ingin mengakhiri hidup mereka.

Keefektifan kampanye itu masih meninggalkan beberapa pertanyaan. Sebab jumlah kematian petani yang bunuh diri belum diketahui pasti.

Pada Agustus 2017 media massa Amerika Serikat, New York Times membuat laporan yang dikutip dari sukarelawan yang berkerja dengan petani setempat. Sukarelawan tersebut mengatakan para dokter setempat sering kali enggan melaporkan kematian karena bunuh diri, karena perusahaan asuransi jiwa akan mengurangi jumlah kompensasi.

Stigma moral dan keyakinan konservatif agama di perdesaan juga berkontribusi terhadap sulitnya proses pengumpulan data. Rata-rata jumlah bunuh diri di Prancis lebih tinggi dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.

Di Prancis sekitar 16,7 per 100 ribu orang meninggal karena bunuh diri. Sementara di 28 negara Eropa, hanya 11,7 orang dari 100 ribu populasi meninggal karena bunuh diri.

Angka bunuh diri laki-laki di Prancis juga tertinggi di Eropa. Michou mengatakan bagi petani di daerah rumahnya di Loire Atlantique, bunuh diri menjadi persoalan biasa.

“Saya mempunyai tetangga yang bunuh diri dan juga sepupu saya yang melalui masa yang sulit, tekanan produksi, biaya hidup, ini gila, dan ada alkohol juga,” kata Michou.

Michou lahir tanpa tangan tapi ia tetap mempertahankan bisnis keluarganya meski memiliki disabilitas. Michou yakin temannya Raymond tidak bunuh diri karena alkohol. Ia yakni temannya tersebut bunuh diri karena kelelahan, stress, dan penat.

“Kami berkerja 365 hari tanpa henti, bangun setiap jam 5 pagi, dan malam harinya dia bersama sapi yang melahirkan, kami memiliki 120 sapi menjadi 180 sapi, setiap binatang membutuhkan perhatian yang sama. Anda bisa melihat ada masalah, masalah nyata,” kata Michou. Sumber

 

Check Also

Latihan Vostok-2018, Bomber Tu-22M3 Rusia Jatuhkan Bom 500Kg

MOSKOW – Lebih dari 10 pesawat pembom (bomber) Tu-22M3 Rusia melakukan simulasi serangan udara di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.